oleh

RI Cetak Rekor Surplus Perdagangan, Ini Faktor Pendorongnya

JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia pada pada periode Agustus 2021 tercatat mencapai USD4,74 miliar, melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020 atau surplus selama 16 bulan berturut-turut. Nilai surplus tersebut bahkan merupakan rekor tertinggi sejak Desember 2006 sebesar USD4,64 miliar.

PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat, kenaikan neraca perdagangan Indonesia Agustus 2021 tampaknya merupakan indikator makro yang lebih baik untuk yang akan datang, khususnya neraca transaksi berjalan yang kini dispekulasikan bisa mencapai 0 persen pada akhir tahun ini.

Lalu apa yang mendorong neraca perdagangan menjadi kuat?

Ashmore dalam catatannya menyebutkan, pada Agustus 2021 Indonesia melaporkan rekor ekspor tertinggi sebesar USD21,4 miliar dan impor yang relatif lebih stabil sebesar USD16.6 miliar. Ekspor tumbuh positif sebesar 63,6 persen (yoy) lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pertumbuhan konsensus sebesar 36,1 persen (yoy).

Ashmore mencatat, secara khusus, ekspor CPO mencatat pertumbuhan yang kuat sebesar 70,1 persen (yoy) mencapai USD4 miliar, sementara ekspor batubara mencatat pertumbuhan 53,5 persen (yoy) menjadi USD2,9 miliar pada bulan Agustus. Kontributor ekspor terbesar ketiga yaitu Besi dan Baja tumbuh sebesar 9,1 persen (yoy) menjadi USD1,7 miliar.

Ketiga kategori komoditas itu meningkat sebanyak dua digit secara bulanan. Impor, meskipun tumbuh kuat, lebih didorong oleh minyak dan gas daripada barang modal, menyiratkan siklus belanja modal yang masih lemah.

“Surplus perdagangan secara keseluruhan merupakan kejutan positif untuk Agustus 2021. Kita tentu menunggu kontribusi ekspor yang lebih kuat dari CPO dan Batubara untuk mendukung perbaikan struktural neraca perdagangan besi dan baja,” ungkap Ashmore, dikutip Minggu (19/9/2021).

Perbaikan Neraca Perdagangan (qtd) menyiratkan bahwa Neraca Transaksi Berjalan Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mencapai 0 persen di Kuartal III-2021.

Apa implikasinya? Ashmore menyebutkan, ini adalah pertama kalinya sejak awal 2020 dimana transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus karena impor terhenti di awal pandemi.

“Namun, jika ini bersifat struktural, kita akan melihat surplus transaksi berjalan pra 2012 yang mengarah pada potensi penguatan mata uang dan indikator ekonomi makro lainnya,” tulis Ashmore. (git/fin)

Komentar

News Feed