oleh

MENELADANI SEMANGAT JUANG RASULULLAH SAW

(Refleksi Peringatan Maulid Nabi)

Oleh Mohamad Mufid, M.Pd.I

Anggota Bidang Keummatan ICMI Orda Kota Prabumulih

Bersyukur kepada Allah swt, pada hari ini, detik ini, kita masih diberikan nafas untuk berjumpa kembali di bulan Rabi’ul Awwal tahun 1443 Hijriyyah. Rabi’ul Awwal adalah yang sangat bersejarah, dimana empat abad yang lalu, tepatnya tanggal 12 Rabiu’ul Awwal tahun Gajah atau bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi, telah lahir seorang bayi yang akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Beliau adalah manusia mulia baginda Rasulullah Muhammad saw, nabi akhir zaman dan pemimpin ummat yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Kelahiran baginda Rasulullah Muhammad saw disambut gembira berbagai kalangan, termasuk pamannya sendiri, Abu Lahab. Ia adalah kakak seayah dari ayah Nabi Muhammad saw, Abdullah bin Abdul Muthalib.

Ketika dikabarkan keponakannya lahir dengan selamat, Abu Lahab sangat gembira. Saking gembiranya, Abu Lahab memerdekakan seorang budak bernama Tsuwaibah, yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai wanita pertama –setelah Sayyidah Aminah- yang menyusui Nabi Muhammad saw.

Pada perkembangan berikutnya, setelah Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul Allah, Abu Lahab menjadi salah satu orang yang paling menentang dan memusuhinya. Ia dikenal sebagai musuh Islam terbesar sepanjang sejarah. Hingga namanya diabadikan menjadi salah satu nama Surat di dalam Al-Qur’an, surat Al-Lahab.

Meski Abu Lahab sudah divonis masuk neraka, namun karena dirinya merasa gembira saat kelahiran Nabi Muhammad, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa kubur setiap hari Senin.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari yang berasal dari Urwah bin Zubair mengatakan:

وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، َلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ – أي بسوء حال -، قَالَ لَهُ : مَاذَا لَقِيتَ ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ : لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ “

“Dan Tsuaibah adalah hamba sahaya milik Abu Lahab yang dia merdekakan kemudian menyusui Nabi Muhammad saw. Ketika Abu Lahab telah meninggal, sebagian keluarganya melihat dalam mimpi tentang buruknya keadaan dia. Lalu dia berkata, “Apa yang terjadi?” Abu Lahab berkata, “Aku tidak mendapatkan apapun sepeninggal kalian kecuali aku diberi minum karena memerdekakan Tsuaibah.”

Karena hal tersebut Abu Lahab mendapatkan keringanan siksaan di akhirat setiap malam Senin. Dalam kitab al-Mawahib al-Laduniyah bi al-Manhi al-Muhammadiyah, Imam al-Zarqani menuliskan,

وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، َلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ – أي بسوء حال -، قَالَ لَهُ : مَاذَا لَقِيتَ ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ : لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

“Dan Tsuaibah adalah hamba sahaya milik Abu Lahab yang dia merdekakan kemudian menyusui Nabi Muhammad saw. tatkala Abu Lahab telah meninggal sebagian keluarganya melihat dalam mimpi tentang buruknya keadaan dia. Lalu dia berkata, “Apa yang terjadi?” Abu Lahab berkata, “Aku tidak mendapatkan apapun sepeninggal kalian kecuali aku diberi minum karena memerdekakan Tsuaibah.”[1]

Essensi Maulid Nabi

Marilah kita merenung sejenak, Abu Lahab saja yang kehidupannya selalu memusuhi, membenci dan menentang dakwah Rasulullah saw, namun karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah, Abu Lahab mendapatkan keringanan  adzab di alam kubur setiap hari Senin.

Lalu kita sebagai kaum muslimin, ummat yang selalu merindukan syafa’atnya mengapa tidak ikut gembira dengan hadirnya bulan Maulid Nabi?

Berkaitan dengan hal di atas, tidak salah jika kaum muslimin di berbagai masjid, kantor atau komunitas majelis ilmu selalu menyelenggarakan kegiatan peringatan maulid Nabi. Semua dilakukan dalam rangka meng-eskpresikan kebahagiaan atas diutusnya manusia mulia Muhammad saw ke muka bumi.

Makna penting perayaan Maulid Nabi saw pada intinya adalah bentuk pengungkapan rasa bahagia dan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini, yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan tausiyah yang mengenang, kemudian mengkaji sejarah dan akhlaq Nabi saw semasa hidupnya.

Ungkapan rasa gembira sangat dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Allah swt. sebagaimana dijelaskan dalam surat Yunus ayat 58.

قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ  ٥٨

 “Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian.” (QS Yunus, 58).

Firman Allah ini sangat jelas menyuruh kita selaku umat Islam untuk bergembira dengan Rasulullah saw, dimana beliau adalah rahmat yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia. Allah berfirman dalam surat al Anbiya’ ayat 107. “Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’,107).

Memuliakan Rasulullah saw

Sesungguhnya, memuliakan hari kelahiran (maulid) dicontohkan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)

Dengan berpedoman pada hadits di atas, sejatinya peringatan maulid Nabi tidak menyalahi aturan ajaran Islam. Dan menjadi penting untuk kita laksanakan, karena  kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad saw sangat efektif untuk memperkenalkan jejak perjuangan Rasulullah saw kepada generasi zaman sekarang. Apalagi di tengah permasalah bangsa yang semakin memprihatinkan, terutama krisis akhlaq. Peringatan Maulid Nabi juga menjadi momen yang tepat untuk memberikan nasihat dan pencerahan kepada ummat bahwasanya ajaran Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang, anti fitnah, anti adu domba dan sebagainya.

Sejarah Maulid Nabi di Indonesia

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw sudah dilakukan sejak zaman kemerdekaan di Indonesia dan terus diperingati setiap tahun. Pada tahun 1963, Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno pernah berpidato pada peringatan Maulid Nabi di Jakarta. Pada momen Maulid Nabi itu, beliau dengan semangat menggelora dan berapi-api memberikan motivasi kepada kaum muslimin untuk meneladani hakikat dari Maulid Nabi.

Menurut Bung Karno hakikat merayakan Maulid Nabi tidak hanya sekedar memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw saja. Tetapi diperingati dengan cara meneladani ajaran, konsepsi, dan agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

“Diberi oleh Allah melalaui Malaikat Jibril kepada Rasul, Rasul meneruskan lagi kepada umat, yaitu kita saat ini. Itu yang kita rayakan saat ini.”

“Oleh karena itu kita berkata: Jika benar-benar engkau mencintai Nabi Muhammad, jika benar-benar engkau merayakan Maulid Nabi Muhammad bin Abdullah,”

“Jika benar-benar engkau merayakan Rasulullah yang punya hari maulid, kerjakanlah apa yang beliau perintahkan,”

Oleh karena itu pada kesempatan yang berbahagia ini, di bulan kelahiran Nabi Muhammad, mari kita menjadikan Rasulullah Muhammad saw sebagai teladan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Siapa pun kita, baik sebagai pejabat ataupun rakyat, baik sebagai pemimpin maupun yang dipimpin, baik sebagai politisi maupun pemilik aspirasi, mari kita meneladani akhlaq Nabi Muhammad saw.

Semoga kita semua benar-benar dapat menjalankan ajaran beliau sehingga kita benar-benar diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin!

Komentar

News Feed