oleh

JADILAH PEJUANG SHOLAT DI MASJID

(Meneladani Kisah Abdullah Bin Ummi Maktum)

Oleh Mohamad Mufid MPdI

Ketua PD IKADI Kota Prabumulih

SUATU Hari seorang lelaki buta bertamu menemui Rasulullah saw. Di saat bersamaan, Rasulullah sedang fokus melayani tamu para pembesar Quraisy. Rasulullah terlihat fokus melayani para tokoh tersebut dengan harapan mereka segera masuk Islam dan bisa membantu penyebaran dakwah Islam. Melihat kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum, raut wajah Rasulullah berubah masam. Beberapa waktu kemudian Allah menegur Rasulullah dengan menurunkan QS. ‘Abasa ayat 1 – 16.

Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah satu sahabat yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya. Karena dirinya menjadi Asbabun Nuzul (sebab turunnya) surat Abasa ayat 1-16. Abdullah bin Ummi-Maktum berasal dari Suku Quraisy yang masih memiliki hubungan saudara dengan Khadijah binti Khuwailid. Ia terlahir dalam keadaan buta. Namun demikian, kekurangan yang dimilikinya tidak mengurangi keinginannya untuk semangat belajar agama Islam.

Di lain kesempatan, Abdullah bin Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah saw perihal shalat berjama’ah. “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menemaniku berangkat sholat ke masjid. Adakah keringanan bagiku untuk shalat di rumah saja?”

Mendengar pertanyaan ini, Rasulullah segera menjawab: “Ya Anda diperbolehkan shalat di rumah dan tidak diwajibkan shalat fardhu di masjid.”

Setelah mendengar penjelasan jawaban Rasulullah, lelaki tuna netra tersebut pun segera pamit pulang. Ketika lelaki itu berbalik, Rasulullah segera memanggil dan berkata kepadanya. “Wahai Abdullah, Apakah engkau masih bisa mendengar panggilan shalat?” Ia menjawab: Terima kasih ya Rasul.” Beliau kemudian bersabda, ‘Kalau begitu, penuhilah panggilan azan tersebut. 

Setelah mendapatkan penjelasan dari Rasulullah, Abdullah selalu datang ke rumah Allah untuk menunaikan shalat berjamaah. Meskipun kondisi fisiknya yang buta, tidak memiliki penunjuk jalan dan cuaca yang tidak menentu seperti cuaca dingin atau pun cuaca panas, beliau tetap berkomitmen  melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

Pentingnya Shalat Berjama’ah

Kisah sahabat Abdullah bin Ummi Maktum di atas, memberi pelajaran sangat berharga kepada Anda, saya dan kita semua tentang pentingnya menjaga shalat fardhu berjama’ah di masjid. Apalagi kondisi kita saat ini sedang sehat, tidak buta dan banyak penerangan sepanjang perjalanan ke masjid.

Berbeda dengan kondisi zaman dahulu dimana Abdullah bin Ummi maktum yang buta, harus berjalan sendirian. Tidak ada cahaya lampu penerangan. Padahal saat itu masih banyak binatang buas yang bisa saja sewaktu-waktu mengintai nyawa Abdullah bin Ummi Maktum.

Marilah kita sebagai kaum Muslimin yang selalu diberikan nikmat kesehatan dari Allah, kita manfaatkan untuk menunaikan salah satu kewajiban shalat fardhu di masjid. Apalagi di bulan Ramadhan. Semua pahala amal kebajikan akan dilipatgandakan Allah.

 Sekali lagi marilah belajar dari Abdullah bin Ummi Maktum. Keterbatasan fisik tidak menghalangi dirinya untuk membangun semangat menuntut ilmu. Bahkan Allah dan Rasul-Nya memberikan penghormatan yang tidak terhingga kepada beliau. Selain komitmennya menjaga shalat berjama’ah di masjid, beliau dipercaya Rasulullah untuk mengumandangkan adzan, khususnya shalat shubuh. Hal ini menunjukkan betapa Rasulullah saw sangat memuliakan sahabat yang satu ini.

Rasulullah saw:“Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu (sepertiga) malam. Karena itu, Rasulullah saw bersabda, ‘Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena ia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq (masuk waktu subuh).” (HR. Mutafaqun Alaih).

Sahabat, dapatkah kita membayangkan betapa susahnya seorang Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, tidak memiliki seorang penuntun dan kondisi cuaca yang tidak menentu, bisa melangkahkan kaki dan menjadi muadzin shalat shubuh? Subhanallah. Tidakkah kita malu selalu bangun kesiangan, padahal kondisi fisik dan cuaca selalu mendukung? Tidak kita rindu dengan suara adzan lima waktu yang selalu memanggil kaum Muslimin?

Syahid di Jalan Allah

Selain komitmennya yang tinggi untuk belajar Islam dan menegakkan shalat berjamaah di masjid, Abdullah bin Ummi Maktum juga bergabung bersama barisan jihad Rasulullah saw. Melihat hal ini, para sahabat pun berkata kepadanya: “Wahai Abdullah, Anda telah diberikan Allah keringanan untuk tidak ikut berperang karena kondisi Anda yang buta.” Abdullah pun tidak kalah semangat dan berkata: “Demi Allah, aku tidak akan tinggal diam, karena Allah swt telah berfirman,

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)

Kemudian Abdullah berangkat dengan gagah berani. Abdullah masuk ke dalam pasukan Perang Qadisiyyah dengan mengenakan baju besinya. Tampil gagah berani. Beliau bertugas memegang panji bendera Islam. Api peperangan dimulai. Peperangan berlangsung sangat hebat. Suara dentingan tebasan pedang dan desiran anak panah yang melesat, tidak membuatnya gentar.  Abdullah terus berjihad di jalan Allah.

Pada hari ketiga, saat kaum muslimin berhasil mengalahkan tentara Persia, Pasukan yang dipimpin sahabat Sa’ad bin Abi Waqash ini mampu memporak-porandakan negara Majusi tersebut. Namun kemenangan besar ini juga harus dibayar dengan gugurnya para sahabat. Salah satu diantaranya adalah Abdullah bin Ummi Maktum ra. Jasadnya ditemukan terkapar di medan perang sambil memeluk bendera yang diamanatkan kepadanya untuk dijaga.

Semoga uraian kisah Abdullah bin Ummi Maktum menginsiprasi kita semua untuk berjuang menegakkan agama Allah. Paling tidak menggerakan hati dan komitmen kaum Muslimin untuk memakmurkan masjid dengan shalat berjama’ah di masjid.  Wallahu a’lam.

Komentar

News Feed