oleh

Ini Kunci Sukses Terapkan Kurikulum Merdeka

Prabumulihpos.co.id – Untuk mensukseskan penerapan Kurikulum Merdeka, dalam rangka pemulihan pembelajaran, ada tiga jalan (Three ways) kunci yang harus ditempuh. Seperti pengalaman berharga yang disampaikan oleh Li’lli Nur Indah Sari, guru SDI Nurul Hikmah Tanggerang Banten, saat menceritakan kisah inspiratif nya dalam forum Gerakan Wartawan Peduli plPendidikan (GWPP), Senin (25/4/2022).

Wanita yang akrab di sapa dengan nama Lilik ini, menuturkan Tri Ways yang menjadi kunci sukses tersebut, adalah komunikasi yang baik antara guru, siswa dan orang tua. Karena itu, sampai sekarang wanita ini menjalankan kurikulum merdeka yang berbasis project pada siswa kelas 1 SD, bisa dikatakan tidak ada kendala.

Wanita ini, memberikan project pelajaran dengan metode bermain peran, siswa menjadi Polisi Aturan. Ini disesuaikan dengan hasil refleksi bersama, mengenai permasalahan yang terjadi dirumah masing-masing. Dalam peranannya sebagai polisi, nanti para siswa akan menjalankan tugas di rumah masing-masing, yang akan dikontrol melalui orang tua, dan bertanya langsung pada siswa.

“Coaching merdeka belajar itu three ways, kuncinya adalah komunikasi yang baik antar Guru, siswa dan orang tua itu sangat penting. Kadang orang tua itu bertanya karena mereka tidak tau, ketika mereka bertanya, kita menjelaskan, disampaikan dengan baik, lalu mereka mengetahui dan memahami, malah orang tua lebih bersyukur dengan kurikulum Merdeka. Kita memberikan bukti, bukan janji,” jelas Lilik.

Metode penilaian terhadap kegiatan berbasis proyek, memang tidak bisa instan seperti penilaian kognitif saja, melainkan harus memakan waktu. Lagi lagi menurut Lilik, peran Orang tua di rumah sangat penting untuk melihat apakah metode ini bisa merubah kebiasaan anak, bisakah anak konsisten untuk menjalankan perannya, hingga mencapai kompetensinya.

“memberikan penilaian bisa memakan waktu, kalau saya minimal satu bulan. Biarkan mereka berposes mencapai kompetensinya. Namun tetap saja, Komunikasi yang baik salah kunci untuk mensukseskan program ini. orang tua harus senantiasa tau, karna itu, merefleksikan proyek itu bukan hanya guru dan siswa, namun juga orang tua,” jelasnya seraya mengatakan, hal ini juga bisa menjadi tolak ukur komitmen siswa.

Pengalaman sama juga disampaikan oleh Iwan A Priyana, Penggerak Komunitas Guru Belajar Kabupaten Bandung. Menurutnya, saat masa pandemi, ketika kegiatan pembelajaran tatap muka tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, pria yang menjajar di SMPN 1 dan SMP YP 17 Nagrek ini memilih untuk memberikan projeck kepada siswanya dalam satu pekan materi pelajaran.

Guru mata pelajaran bahasa Indonesia ini, memberikan tugas dalam satu pekan pembelajaran tidak harus dilaksanakan secara tatap muka, dia cukup menjelaskan materinya dan tugas yang harus dilakukan oleh siswa. Kemudian siswa mengerjakan tugasnya dengan cara menulis apa yang dilakukan dirumah. Mulai dari mencuci baju sendiri, berkomunikasi dengan orang tua, lalu menuliskan pengalaman ketika orang tua bekerja.

“Banyak orang tua menilai proyek adalah aneh, apalagi saat Daring, hp tidak suport dan tidak ada kuota. Namun semuanya perlu komunikasi yang baik dengan orang tua, agar satu arah dan pembelajaran bisa dicapai secara maksimal. Di era sekarang, yang diperlukan adalah guru yang kreatif untuk mencerdaskan anak didiknya dimulai dari refleksi permasalahan yang ada,” tambahnya.

Mengenai penilaian siswa pada kurikulum Merdeka, Virandy Putra , guru SMAN 1 Sijuk Belitung mengatakan bahwa dari dulu, sisi penilaian memang bukan hanya penilaian kognitif saja, namun juga sudah ada penilaian sikap dan Etika, hanya saja belum begitu di gaungkan seperti sekarang ini, dimana penilaian etika sudah lebih penting.

“Sebelum mengajar, memang harus ada Assemen dulu, teliti dulu permasalahan. jika memang ada permasalahan maka bisa menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang akan diterapkan. Sehingga projeck yang diberikan pada siswa memberikan pembelajaran yang berbasis masalah, dan Proses penilaian tidak hanya pengetahuan siswa, namun juga sikap siswa dalam menjalankan project yang diberikan oleh guru,” kata Virandy.

Diketahui, Kurikulum Merdeka yang sekarang terus disosialisasikan di dunia pendidikan, berdasarkan keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan riset dan teknologi (Kemendikbud Ristek) Republik Indonesia, nomor 56/ M/ 2022, tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran.

Di Kota Prabumulih, SMPN 4 Prabumulih merupakan satu-satunya sekolah yang sudah menggelar In House Training (IHT) mengenai kurikulum merdeka. Menurut Tati Sumira SPd MPd, Calon Guru Penggerak SMPN 4 Prabumulih, inti dari Kurikulum meredeka adalah guru dan siswa harus lebih kreatif, arah kurikulum ini adalah, pelaksanaan pembelajaran yang mengacu pada kebutuhan dan minat siswa.

Pada akhirnya nanti, diharapkan terbentuk atau terwujudnya profile pelajaran pancasila, sesuai Visi dan Misi Kemendikbud Ristek yang tertuang dalam permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Sebelum melaksanakan kurikulum merdeka, sekolah perlu melakukan langkah awal, yaitu analisis diagnostik kebutuhan peserta didik dan melakukan survey lingkungan peserta didik. “kerjasama yang baik sangat diperlukan agar terlaksana kurikulum ini. Bukan hanya antar guru, siswa dan orang tua, namun Kerjasama yang baik tersebut mulai dari Dinas Pendikan dan kebudayaan, pengawas Sekolah, Komite sekolah dan seluruh stackholder yang ada di sekolah,” tandanya.(05)

Komentar

News Feed