oleh

Gelar Pecaruan hingga Semedi

KARYA MULIA – Upacara Pecaruan untuk penyucian alam semesta dan persembahan kepada Yang Maha Kuasa, dalam memperingati Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1939 di Dusun I Unit 7 Desa Karya Mulia Kecamatan RKT berlangsung sakral.
Namun lantaran di hari kerja, Pecuruan yang dilakukan di Pura Jagat Natha Widiyana Sari hanya diikuti sejumlah umat Hindu yang dipimpin oleh Gusti Made Brato.
Ketua Umat Hindu Karya Mulia I Ketut Budiarasa menyampaikan, sejumlah pesembahan dan ritual doa yang dilakukan tersebut merupakan persembahan untuk yang maha kuasa dengan sarana satu ayam berumbun.
“Pelaksanaan pecaruan Eko Sato tingkatan paling rendah hanya dengan satu ayam berumbun. Karena masyarakat kita sangat sedikit, apalagi hari ini hari kerja jadi sedikit yang ikut,” kata pria yang akrab disapa Budi ini.
Lebih lanjut Budi menjelaskan Pecaruan yang dilakukan tersebut juga merupakan bentuk doa, terhadap alam semesta yang telah bermurah hati memberikan kemakmuran kepada umat manusia. “Intinya kita minta penyucian alam semesta, mengusir segala bentuk kehajatan, meminta semua urusan dimudahkan dan kita semua dilindungi oleh tuhan yang maha esa,” bebernya.
Disinggung apakah ada doa khusus untuk Kota Prabumulih yang dipanjatkan dalam pecaruan tersebut? Budi menuturkan, doa dan yang dilakukan secara sakral tersebut masih bersifat doa pribadi dan untuk alam semesta. “Tiak ada khusus, hanya saja kita pada dasarnya mendoakan semua berjalan baik dan dimudahkan semua tanpa ada halangan apapun,” jelasnya.
Sementara itu tepat dihari Hari Raya Nyepi, Budi menyampaikan jika seluruh umat hindu yang berjumlah sekitar 20 KK tersebut menggelar semedi dan puasa didalam rumah. Nyepi tersebut jelas Budi, umat Hindu tidak boleh melakukan aktifitas apapun dan harus berada didalam rumah. “Nyepi itu artinya penyepian, umat Hindu tidak boleh menyalakan api, berpergian, hanya bersemedi intorpeksi diri, meminta dengan berdoa dan berpuasa hingga malam harinya,” katanya.
Biasanya jelas dia, saat Umat Hindu merayakan Nyepi dengan bersemedi di rumah masing-masing. Umat muslim atau masyarakat yang ada di Desa Karya Mulia-lah yang bertugas menjaga dan melindungi mereka saat lengah dari aktivitas. “Di sini saling menjaganya begitu kuat, toleransinya juga demikian sehingga setiap kami melaksanakan nyepi tetap aman tanpa ada kendala ataupun halangan apapun,” ucapnya.
Kemudian ungkap dia, setelah penyepian tepatnya satu hari setelah hari Nyepi umat Hindu akan melaksanakan ngembak (halal bihalal,red). “Masyarakat baik muslim dan lainnya akan datang kerumah untuk bersilaturahmi,” tuturnya.
Sementara itu Kepala Desa Karya Mulia Miril Firacha AMd mengungkan, masyarakat yang tak merayakan Nyepi yakni umat muslim dan umat beragama lainnya selain menjaga lingkungan dari keamanan, biasanya juga lebih toleransi dalam hal suara. “Kalau sedang penyelian tidak ada yang menyetel lagu atau sejenisnya. Kemudian juga untuk adzan-pun diecilkan dari hari biasanya, karena disaat nyepi umat Hindu akan bersemedi dengan khusuk didalam rumah tanpa ada suara apapun,” tukasnya.
Pantauan koran ini, sejumlah ritual dilakukan dengan waktu yang cukup lama. Persembahan mulai dari ayam, buah-buahan, kembang berwarna-warni, telur dan lainnya dibawa ke Pura. (05)

News Feed