oleh

DAKWAH DAN KEKUASAAN

Oleh : Harun Rosyid, M.Pd.I.

Dengan Kekuasaan dapat dicegah apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur’an.

Dzun Nurain, Utsman bin ‘Affan RA pernah berujar:

ﺇﻥ ﺍﻟﻠّﻪ ﻟﻴﺰﻉ ﺑﺎﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺰﻉ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ

“Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur`an.” (Ibnu Katsir, Qashah al-Anbiyâ, 265).

“Dengan kekuasaan bisa dicegah apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur’an. Dengannya juga bisa disuruh apa yang tidak bisa disuruh dengan Al-Qur’an”

Maksudnya adalah, boleh jadi, orang sering mendengar bacaan al-Qur`an, mengakui kebenaran nilainya, menganggapnya agung, tapi ia tetap malas beribadah dan berbuat baik, tetap terjerumus dalam kemaksiatan dan kemungkaran. Lain halnya dengan seorang penguasa yang ia membuat undang-undang untuk mengajak berbuat baik, untuk melarang kemaksiatan dan kemungkaran, bisa jauh lebih langsung dipatuhi dan terasa efek jeranya.

Tentang urgensi kekuasaan dalam suatu riwayat disebutkan:

ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻇﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﺭﺿﻪ

“Kekuasaan adalah bayang-bayang Allah di bumi.” (Ibnu Atsir, Usud al-Ghâbah, 929)

Orang yang paling beruntung adalah ketika ia memiliki kekuasaan digunakannya untuk mengajak manusia berbuat kebaikan dan menjadi orang yang paling merugi disaat ia menyia-nyiakannya terlebih apabila digunakan untuk berbuat kejahatan.

Oleh itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendoakan kebaikan untuk penguasa yang baik dan mendoakan keburukan untuk penguasa yang buruk.

Doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk para pemegang urusan (penguasa):

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﻦْ ﻭَﻟِﻲَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﻫَﺬِﻩِ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺷَﻴْﺌﺎً ﻓَﺮَﻓَﻖَ ﺑِﻬِﻢْ، ﻓَﺎﺭْﻓُﻖْ ﺑِﻪِ . ﻭَﻣَﻦْ ﺷَﻖَّ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻓَﺎﺷْﻔُﻖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ .

“Yaa Allah, siapa saja yang memimpin mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia”. (HR. Imam Muslim).

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﻦْ ﻭَﻟِﻲَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﺸَﻖَّ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﺎﺷْﻘُﻖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻭَﻟِﻲَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﺮَﻓَﻖَ ﺑِﻬِﻢْ ﻓَﺎﺭْﻓُﻖْ ﺑِﻪِ ‏( ﺃﺣﻤﺪ ، ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ‏)

“Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

ﻭَﻣَﻦْ ﻭَﻟِﻲَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﺸَﻖَّ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑَﻬْﻠَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻬْﻠَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻌْﻨَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ { ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺃَﺑُﻮ ﻋَﻮَﺍﻧَﺔ ﻓِﻲ ﺻَﺤِﻴﺤِﻪِ}

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Teruntuk Saudaraku…

Teruntuk saudaraku para penguasa, pemimpin dan siapapun yang memiliki kekuasaan dan kepemimpinan, ketahuilah sesungguhnya kekuasaan dan kepemimpinan adalah amanah, berbuat adillah kepada manusia dengannya, gunakan fasilitas tersebut sebagai sarana dakwahmu mengajak manusia kepada yang kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Teruntuk saudaraku para guru, da’i, muballigh dan siapapun yang memiliki kesempatan berbicara, lisanmu adalah sarana dakwahmu, gunakan ia untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Teruntuk saudaraku yang tidak memiliki kekuasaan dan kesempatan berbicara, hati adalah sarana dakwahmu gunakan ia untuk berdoa memohon kebaikan dan menolak kemungkaran.

Nabi saw bersabda:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : )) ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣُﻨْﻜَﺮًﺍ ﻓَﻠْﻴُﻐَﻴِّﺮْﻩُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ , ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ , ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻘَﻠْﺒِﻪِ ﻭَﺫﻟِﻚَ ﺃَﺿْﻌَﻒُ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ (( ‏[ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ]

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran darimu maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak bisa maka (hendaklah ia merubahnya) dengan lisannya, dan jika tidak bisa (hendaklah ia merubahnya) dengan hatinya, maka hal itu adalah selemah-lemah iman .” [HR. Muslim]

Firman Allah dalam Al-Qur’an:

(كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَـٰبِ لَكَانَ خَیۡرࣰا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ)

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. [Surat Ali ‘Imran 110]

Dakwah dan Kekuasaan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

ﻭﻟﻬﺬﺍ ﺭﻭﻱ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻇﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ

Oleh karena itu telah ada riwayat yang menyebutkan bahwa, penguasa adalah naungan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya diatas muka bumi.

ﻭﻳﻘﺎﻝ : ﺳﺘﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﻣﻦ ﺇﻣﺎﻡ ﺟﺎﺋﺮ ﺃﺻﻠﺢ ﻣﻦ ﻟﻴﻠﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺑﻼ ﺳﻠﻄﺎﻥ، ﻭﺍﻟﺘﺠﺮﺑﺔ ﺗﺒﻴﻦ ﺫﻟﻚ …

Dan telah dinyatakan (oleh para Ulama), “enampuluh tahun waktu berjalan dengan kepemimpinan penguasa yang jahat, maka itu lebih baik daripada satu malam tanpa adanya penguasa.”

Banyak yang bilang: “Bahwa DAKWAH itu sebenarnya tak memerlukan kekuasaan. DAKWAH membutuhkan kesederhanaan dan kebersahajaan untuk menarik simpati manusia. Kesederahanaan dan kebersahajaan yang dibalut oleh aktualisasi”.

Kata-kata seperti ini sebenarnya adalah hasil rekayasa/makar dari para misionaris dan islampobia yang  diracunkan kepada ummat Islam, agar ummat Islam selalu lemah dan tertindas dan terus menerus jadi sasaran pem ‘bully’ an. Kalau kita kembali ke Dakwah Rasulullah SAW dan para sahabatnya, sudah sangat jelas dan gamblang  tentang bagaimana teknik-teknik dan berpolitik ala Rasulullah untuk kemajuan dakwah Islam.

Contoh sederhana saja bagaimana Dakwah itu sangat butuh kekuasaan adalah pada saat Rasul di Mekkah, berapa tahun di sana? 13 Tahun. Rasul tidak berkuasa sama sekali, tanpa bisa berbuat banyak, di bully terus, diboikot, dakwah macet, pengikut Islam sedikit. Di Mekah sendiri Rasul bukanlah orang yg senderhana (kata-kata sederhana/miskin itu banyak digembar-gemborkan para misionaris, coba lihat berapa mahar Rasul ketika melamar Khadijah? Rasulullah itu kaya sebenarnya, setelah menikah dengan Khadijah – tambah jadi kaya raya), sahabat-sahabat Rasulullah kaya raya, disegani, kalau itu tidak maka tak mungkin Bilal bisa bebas dari majikannya, tak mungkin Umar Ra kalau tidak ada wibawa dan “kekuasaan” dapat menggentarkan kaum kafirin.

Bandingkan ketika Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah, keadaan Rasul di sana adalah sebagai pemegang kekuasaan, terutama Dakwah Islamnya, bagaiman hasilnya setelah Islam berkuasa ? sungguh luar biasa, Madinah menjadi kota bercahaya (Munawarah), sejahtera, syariat Islam ditegakkan, dakwah Islam dan pengikutnya bertambah luas dan banyak, politik luar negerinya ? bisa memperluas dakwah dinegeri sekitarnya, kekuatan militernya (mujahidin) sangat disegani dan ditakuti lawan. Akhirnya apa yg terjadi? dulu Mekah yg mem bully RAsulullah dan dakwah Islam akhirnya takluk bertekuk lutut.

Wallahua’lam bishshawab.

Komentar

News Feed